Kebudayaan JawaTimur
Jawa Timur memiliki sejumlah kesenian khas. Ludruk merupakan salah satu
kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang umumnya
seluruh pemainnya adalah laki-laki. Berbeda dengan ketoprak yang menceritakan kehidupan
istana, ludruk menceritakan kehidupan sehari-hari rakyat jelata, yang
seringkali dibumbui dengan humor dan kritik sosial, dan umumnya dibuka dengan
Tari Remo dan parikan. Saat ini kelompok ludruk tradisional dapat dijumpai di
daerah Surabaya, Mojokerto, dan Jombang; meski keberadaannya semakin dikalahkan
dengan modernisasi.
Seni tari tradisional di Jawa Timur secara umum dapat dikelompokkan dalam gaya
Jawa Tengahan, gaya Jawa Timuran, tarian Jawa gaya Osing, dan trian gaya
Madura. Seni tari klasik antara lain tari gambyong, tari srimpi, tari bondan,
dan kelana.
1. Seni Tari
Tari Remong, sebuah tarian dari Surabaya yang melambangkan
jiwa, kepahlawanan. Ditarikan pada waktu menyambut para tamu. Reog Ponorogo,
merupakan tari daerah Jawa Timur yang menunjukkan keperkasaan, kejantanan dan
kegagahan.
2. Musik
Musik tradisional Jawa Timur hampir sama
dengan musik gamelan Jawa Tengah seperti Macam laras (tangga nada) yang
digunakan yaitu gamelan berlaras pelog dan berlaras slendro. Nama-nama gamelan
yang ada misalnya ; gamelan kodok ngorek, gamelan munggang, gamelan sekaten,
dan gamelan gede.
Kini gamelan dipergunakan untuk mengiringi bermacam acara,
seperti; mengiringi pagelaran wayang kulit, wayang orang, ketoprak,
tari-tarian, upacara sekaten, perkawinan, khitanan, keagaman, dan bahkan
kenegaraan.Di Madura musik gamelan yang ada disebut Gamelan Sandur.
3. Rumah adat
Bentuk bangunan Jawa Timur bagian barat (seperti di
Ngawi, Madiun, Magetan, dan Ponorogo) umumnya mirip dengan bentuk bangunan Jawa
Tengahan (Surakarta). Bangunan khas Jawa Timur umumnya memiliki bentuk joglo ,
bentuk limasan (dara gepak), bentuk srontongan (empyak setangkep). Masa
kolonialisme Hindia-Belanda juga meninggalkansejumlah bangunan kuno. Kota-kota
di Jawa Timur banyak terdapat bangunan yang didirikan pada era kolonial,
terutama di Surabaya dan Malang.
Jawa memiliki berbagai keindahan budaya dan seni
yang terintegrasi dengan kehidupan masyarakatnya. berbagai seni tradisi dan
budaya tertuang dalam karya karya pusaka masyarakat jawa seperti batik, rumah
joglo, keris dan gamelan. karya pusaka seni dan budaya jawa seperti diatas
sangat populer dan mendapatkan tempatnya sendiri di hati msyarakat dan
wisatawan yang berkunjung ke yogyakarta. Menginginkan suasana jawa dengan rumah
joglonya dapat dilakukan dengan berwisata adat dan budaya di yogyakarta.
sekarang ini telah muncul banyak pilihan berwisata yang menawarkan sifat dan
budaya lokal yang tercover dalam desa wisata. Anda tentunya akan dapat menikmati
suasana seperti masyarakat jawa sesungguhnya karenan memang desa desawisata
telah dipadukan dengan kearifan lokal yang patut anda kunjungi. Selamat
berwisata ke jogja…
4.
Pakaian adat
Pakaian adat jawa timur ini disebut mantenan. pakaian ini
sering digunakan saat perkawinan d masyarakat magetan jawa timur
5. Kerajinan tangan
Macam-macam produk unggulan kerajinan anyaman bambu berupa :
caping, topi, baki, kap lampu, tempat tissue, tempat buah, tempat koran serta
macam-macam souvenir dari bambu lainnya. Sentra industri ini terletak di Desa
Ringinagung +- 1,5 arah barat daya kota Magetan.
6. Perkawinan
Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami.
Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako'ake (menanyakan
apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan
(lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau kepanggih. Untuk
mendoakan orang yang telah meninggal, biasanya pihak keluarga melakukan kirim
donga pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, 1 tahun, dan 3 tahun setelah
kematian.
7. Festival Bandeng
Festival Bandeng selalu digelar setiap tahun. Namun, ada
yang berbeda dalam perayaan tahun ini. Kegiatan tersebut tidak dibarengi dengan
acara lelang (menjual dengan harga tawar yang paling tinggi) bandeng kawak yang
sudah menjadi tradisi masyarakat Sidoarjo.
Kurang biaya dan bencana lumpur Sidorjo menjadi penyebab
lelang itu dihilangkan. Walaupun tidak ada lelang, kegiatan tersebut diharapkan
bisa mendorong petani untuk tetap membudidayakan ikan bandeng dengan bobot tak
wajar alias raksasa.
Pemkab Sidoarjo sangat memperhatikan pelestarian bandeng karena ikan itu adalah
ikon utama Kabupaten Sidoarjo.
Festival yang juga bertujuan melestarikan budaya tradisional
tahunan masyarakat Sidoarjo itu diikuti empat peserta petambak di Kabupaten
Sidoarjo. Peserta berlomba menunjukkan hasil tambak berupa bandeng yang paling
sehat dan terbaik.
8. Upacara Kasodo
Upacara Yadnya Kasada atau Kasodo ini merupakan ritual yang
dilakukan setahun sekali untuk menghormati Gunung Brahma (Bromo) yang dianggap
suci oleh penduduk suku Tengger.
Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah
kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara ini
diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar
tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.
9. Parikan
Ada tiga jenis parikan di dalam ludruk pada saat bedayan
(bagian awal permainan ludruk). Ketiga jenis parikan tersebut adalah lamba
(parikan panjang yang berisi pesan), kecrehan (parikan pendek yang
kadang-kadang berfungsi menggojlok orang) dan dangdutan (pantun yang bisa
berisi kisah-kisah kocak).
10. Ketoprak
Ketoprak (bahasa Jawa kethoprak) adalah sejenis seni pentas
yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang
diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan.
Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak
bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak
pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil
dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti
pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang.
11. Reog Ponorogo
Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari
Jawa Timur, khususnya kota Ponorogo. Tak hanya topeng kepala singa saja yang
menjadi perangkat wajib kesenian ini. Tapi juga sosok warok dan gemblak yang
menjadi bagian dari kesenian Reog.
Di Indonesia, Reog adalah salah satu budaya daerah yang masih sangat kental
dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan.
Seni Reog Ponorogo ini terdiri dari 2 sampai 3 tarian
pembuka. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan
pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini
menggambarkan sosok singa yang pemberani.
Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang
menaiki kuda. Pada reog tradisional, penari ini biasanya diperankan oleh penari
laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang. Eits,
tarian ini berbeda dengan tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada
biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.
Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan
inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika
berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan.
Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar.
Adegan terakhir adalah singa barong. Seorang penari memakai
topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung
merak.
12. Karapan Sapi
Karapan sapi adalah pacuan sapi khas dari Pulau Madura.
Dengan menarik sebentuk kereta, dua ekor sapi berlomba dengan diiringi oleh
gamelan Madura yang disebut saronen.
Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu
(tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam
lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain.
Jalur pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba
pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh sampai lima belas detik. Beberapa kota
di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap
tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di kota
Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.
Ritual Seblang adalah salah satu ritual masyarakat Using
yang hanya dapat dijumpai di dua desa dalam lingkungan kecamatan Glagah,
Kab.Banyuwangi, yakni desa Bakungan dan desa Olehsari. Seblang atau Sebele
ilang (sialnya hilang) Ritual ini dilaksanakan untuk keperluan bersih desa dan
tolak bala, agar desa tetap dalam keadaan aman dan tentram.
Penyelenggaraan tari adat Seblang di dua desa tersebut juga berbeda waktunya,
di desa Olehsari diselenggarakan satu minggu setelah Idul Fitri, sedangkan di
desa Bakungan yang bersebelahan, diselenggarakan seminggu setelah Idul Adha.
Para penarinya dipilih secara supranatural oleh dukun
setempat, dan biasanya penari harus dipilih dari keturunan penari seblang
sebelumnya. Di desa Olehsari, penarinya harus gadis yang belum akil baliq,
sedangkan di Bakungan, penarinya harus wanita berusia 50 tahun ke atas yang
telah mati haid (menopause).
Tari Seblang ini sebenarnya merupakan tradisi yang sangat
tua, hingga sulit dilacak asal usul dimulainya. Namun, catatan sejarah
menunjukkan bahwa Seblang pertama yang diketahui adalah Semi, yang juga menjadi
pelopor tari Gandrung wanita pertama (meninggal tahun 1973). Setelah sembuh
dari sakitnya, maka nazar ibunya (Mak Midah atau Mak Milah) pun harus dipenuhi,
Semi akhirnya dijadikan seblang dalam usia kanak-kanaknya hingga setelah
menginjak remaja mulai menjadi penari Gandrung.
Tari Seblang ini dimulai dengan upacara yang dibuka oleh
sang dukun desa atau pawang.. Sang dukun mengasapi sang penari dengan asap dupa
sambil membaca mantera. Setelah sang penari kesurupan (taksadarkan diri atau
kejiman dalam istilah lokal), Mulailah menari dengan gerakan monoton mata
terpejam dan mengikuti irama gendhing yang di mainkan.
Musik pengiring Seblang hanya terdiri dari satu buah
kendang, satu buah kempul atau gong dan dua buah saron. Sedangkan di desa Olehsari
ditambah dengan biola sebagai penambah efek musikal. Dari segi busana, penari
Seblang di Olehsari dan Bakungan mempunyai sedikit perbedaan, khususnya pada
bagian omprok atau mahkota.
Menurut pengakuan penari seblang didesa olehsari selama
menjadi penari, dia harus menari selama lima jam dalam kondisi tidak sadar.
Memakai omprog, kemben dan sewek dia harus menari berkeliling pentas. Memasuki
ritual tundik, dia melempar selendang ke arah penonton. Siapa yang menerima
selendang itu, dia yang harus menari bersama di atas pentas. Konon katanya yang
mendapat selendang itu berarti dia mendapakan keberuntungan.
Dia juga mengatakan saat sebelum memakai
omprog, dirinya masih keadaan sadar. Namun, apabila sudah bau dupa dan memakai
omprog dia terasa didatangi oleh seorang perempuan cantik. Memakai kemben
berwarna hijau dan sewek serta memakai selendang yang dibalutkan ke pinggulnya.
’’Setelah itu, saya tidak ingat lagi. Pokoknya seperti orang jalan –jalan tapi
tidak sampai - sampai,’’ katanya.
Setelah menari, juga merasa capek. Namun, hal itu tidak dia
rasakan. Yang paling penting, menurutnya adalah agar desanya terbebas dari
marabahaya.
1.
Ritual Seblang Olehsari
Suara angklung paglak terdengar sayup – sayup ditelingga
masyarakat sekitar Desa Olehsari kecamatan Glagah. Suara angklung paglak yang
berada di pinggir jalan raya Ijen itu merupakan tanda bahwa desa tersebut
sedang punya gawe. Kalangan bapak – bapak dan pemuda desa, mulai mempersiapkan
segala sesuatunya. Termasuk pentas yang akan digunakan untuk penari seblang.
Nama upacara adat Seblang merupakan upacara bersih desa
untuk menolak balak yang diwujudkan dengan mementaskan kesenian sakral yang
disebut : “Seblang” yang berbau mistis.Seblang olehsari ditarikan oleh wanita
muda selama tujuh hari berturut – turut. Penari menari dalam keadaan kesurupan
(tidak sadar). Ia menari mengikuti gending usingan atau lagu–lagu sebanyak 28
dan dinyanyikan oleh beberapa sinden.
Pada penari Seblang di desa Olehsari, omprok (tutup kepala)
biasanya terbuat dari pelepah pisang yang disuwir-suwir hingga menutupi
sebagian wajah penari, sedangkan bagian atasnya diberi bunga-bunga segar yang
biasanya diambil dari kebun atau area sekitar pemakaman, dan ditambah dengan
sebuah kaca kecil yang ditaruh di bagian tengah omprok.
Sebelum Ritual Seblang dilaksanakan, pada malam hari
sebelumnya, masyarakat desa itu menggelar selamatan yang dikuti oleh seluruh
warga. Pelaksanaan Ritual Seblang dilaksanakan 7 hari setiap sore dan
prosesinya sama, kecuali pada hari terakhir ada prosesi Seblang Ider bumi,
keliling kampung.
Pada prosesi gending "Kembang Dermo", Seblang
menjual bunga. Bunga itu ditancapkan pada sebatang bambu kecil yang terdiri 3
kumtum bunga sehingga mudah untuk dibawa. Hampir semua masyarakat desa, para
penonton berebut untuk membeli bunga itu. Bunga-bunga itu disimpan untuk
ana-anak atau diletakkan disuatu tempat tertentu di rumah maupun di sawah yang
dipercaya sebagai tolak balak untuk mengusir pengaruh-pengaruh jahat, balak
penyakit maupun keberuntungan.
Prosesi berikutnya yang disebut "Tundikan", dimana
Seblang mengundang tamu atau penonton untuk menari bersama di atas pentas,
yaitu dengan cara melemparkan selendang atau sampur kepada penonton.
Dalam keadaan kesurupan dan mata terpejam, penari seblang
menunjuk ke arah penonton dimana penari melemparkan selendangnya dan mengenai
seseorang penonton. Penonton berharap bisa mendapatkan Tundik ini dan menari
bersama seblang, karena dipercaya ia akan mendapat keberuntungan.
Tempat : Desa Olehsari,Kec. Glagah
2. Ritual Seblang Bakungan
Seblang bakungan tujuannya sama yaitu merupakan upacara
penyucian desa. Upacara ini dilakukan satu malam, seminggu setelah hari raya
Idul Adha. Tujuan dari upacara ini adalah menolak balak, yakni dengan mengadakan
pertunjukan seblang di malam hari, setelah maghrib. Acara dibuka dengan parade
oncor keliling desa (Ider bumi) yang diikuti oleh penduduk desa.
Seblang bakungan ditarikan oleh seorang wanita tua di depan
sanggar Seni Bunga Bakung Kelurahan Bakungan Kec.Glagah. Setelah diberi mantra
– mantra ia menari dalam keadaan tidak sadar mata terpejam,. Lagu –lagunya atau
gending using ada 12 – di antaranya Seblang, Podo nonton, ugo-ugo, kembang
Gading dan lainnya. yang menceritakan tentang kehidupan, karamahan, lingkungan
hidup,dsb.
Sebelum melakukan upacara, warga Bakungan ziarah ke makam
buyut Fitri yang merupakan tetua desa dengan membawa ubo rampe. Setelah ziarah,
seluruh warga mulai menyiapkan prosesi seblang dengan menyiapkan sesaji mulai
ketan sabrang, ketan wingko, tumpeng, kinangan, bunga 500 biji, tumpeng takir,
boneka dan pecut hingga kelapa sebagai lambang kejujuran.
Pada penari seblang wilayah Bakungan, omprok yang dipakai
sangat menyerupai omprok yang dipakai dalam penari Gandrung, hanya saja bahan
yang dipakai terbuat dari pelepah pisang dan dihiasi bunga-bunga segar meski
tidak sebanyak penari seblang di Olehsari. Disamping ada unsur mistik, ritual
Seblang ini juga memberikan hiburan bagi para pengunjung maupun warga setempat,
dimana banyak adegan-adegan lucu yang ditampilkan oleh sang penari seblang ini.
Kegiatan berakhir tengah malam setelah acara"Adol
Kembang". Para penonton kemudian berebut berbagai bibit tanaman yang
dipajang di panggung dan mengambil kiling (baling-baling) yang di pasang di
sanggar. barang-barang yang diambil tersebut dapat di percaya dapat digunakan
sebagai alat penolak balak.
Banyak hal menarik dari seni dan kebudayaan yang terdapat di
propinsi Jawa Timur. Banyak kesenian khas yang menjadi ciri khas dari budaya
yang terdapat di daerah Jawa Timur.
Propinsi yang ada di bagian timur pulau jawa ini memiliki
banyak keunikan, diantaranya adalah kebudayaan dan adat istiadat dari di Jawa
Timur. Namun banyak di antaran kebudayaan Jawa Timur menerima pengaruh dari
propinsi Jawa Tengah. Contohnya adanya kawasan yang dikenal sebagai Mataraman.
Hal ini menunjukkan bahwa di daerah kawasan tersebut dulunya merupakan daerah
kekuasaan dari Kesultanan Mataram. Daerah tersebut terdapat di eks-Karesidenan
Madiun (Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan), eks-Karesidenan Kediri
(Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek) dan sebagian Bojonegoro.
Jawa Timur memiliki sejumlah kesenian khas. Ludruk merupakan
salah satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang
umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki. Berbeda dengan ketoprak yang
menceritakan kehidupan istana, ludruk menceritakan kehidupan sehari-hari rakyat
jelata, yang seringkali dibumbui dengan humor dan kritik sosial, dan umumnya
dibuka dengan Tari Remo dan parikan. Saat ini kelompok ludruk tradisional dapat
dijumpai di daerah Surabaya, Mojokerto, dan Jombang; meski keberadaannya
semakin dikalahkan dengan modernisasi.
Reog yang sempat diklaim sebagai tarian dari Malaysia
merupakan kesenian khas Ponorogo yang telah dipatenkan sejak tahun 2001, reog
kini juga menjadi ikon kesenian Jawa Timur. Pementasan reog disertai dengan
jaran kepang (kuda lumping) yang disertai unsur-unsur gaib. Seni terkenal Jawa
Timur lainnya antara lain wayang kulit purwa gaya Jawa Timuran, topeng dalang
di Madura, dan besutan. Di daerah Mataraman, kesenian Jawa Tengahan seperti
ketoprak dan wayang kulit cukup populer. Legenda terkenal dari Jawa Timur
antara lain Damarwulan dan Angling Darma.
Terdapat pula kebudayaan semacam barong sai di Jawa Timur. Kesenian itu ada di
dua kabupaten yaitu, Bondowoso dan Jember. Singo Wulung adalah kebudayaan khas
Bondowoso. Sedangkan Jember memiliki macan kadhuk. Kedua kesenian itu sudah
jarang ditemui.
Kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur bagian
barat menerima banyak pengaruh dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal
sebagai Mataraman; menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan daerah
kekuasaan Kesultanan Mataram. Daerah tersebut meliputi eks-Karesidenan Madiun
(Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan), eks-Karesidenan Kediri (Kediri,
Tulungagung, Blitar, Trenggalek) dan sebagian Bojonegoro. Seperti halnya di
Jawa Tengah, wayang kulit dan ketoprak cukup populer di kawasan ini.
Kawasan pesisir barat Jawa Timur banyak dipengaruhi oleh
kebudayaan Islam. Kawasan ini mencakup wilayah Tuban, Lamongan, dan Gresik.
Dahulu pesisir utara Jawa Timur merupakan daerah masuknya dan pusat
perkembangan agama Islam. Lima dari sembilan anggota walisongo dimakamkan di
kawasan ini.
Di kawasan eks-Karesidenan Surabaya (termasuk Sidoarjo,
Mojokerto, dan Jombang) dan Malang, memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman,
mengingat kawasan ini cukup jauh dari pusat kebudayaan Jawa: Surakarta dan
Yogyakarta.
Adat istiadat di kawasan Tapal Kuda banyak dipengaruhi oleh
budaya Madura, mengingat besarnya populasi Suku Madura di kawasan ini. Adat
istiadat masyarakat Osing merupakan perpaduan budaya Jawa, Madura, dan Bali.
Sementara adat istiadat Suku Tengger banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu.
Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa
Tengah, memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai
upacara adat yang diselenggarakan antara lain: tingkepan (upacara usia
kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama), babaran (upacara menjelang lahirnya
bayi), sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima hari), pitonan (upacara
setelah bayi berusia tujuh bulan), sunatan, pacangan.
Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami.
Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako'ake (menanyakan
apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan
(lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau kepanggih.
Masyarakat di pesisir barat: Tuban, Lamongan, Gresik, bahkan Bojonegoro
memiliki kebiasaan lumrah keluarga wanita melamar pria, berbeda dengan lazimnya
kebiasaan daerah lain di Indonesia, dimana pihak pria melamar wanita. Dan
umumnya pria selanjutnya akan masuk ke dalam keluarga wanita.
Untuk mendoakan orang yang telah meninggal, biasanya pihak keluarga melakukan
kirim donga pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, 1 tahun, dan 3 tahun
setelah kematian.
Bentuk bangunan Jawa Timur bagian barat (seperti di Ngawi,
Madiun, Magetan, dan Ponorogo) umumnya mirip dengan bentuk bangunan Jawa
Tengahan (Surakarta). Bangunan khas Jawa Timur umumnya memiliki bentuk joglo,
bentuk limasan (dara gepak), bentuk srontongan (empyak setangkep).
Masa kolonialisme Hindia-Belanda juga meninggalkan sejumlah
bangunan kuno. Kota-kota di Jawa Timur banyak terdapat bangunan yang didirikan
pada era kolonial, terutama di Surabaya dan Malang.
Mayoritas suku Jawa umumnya menganut agama Islam, sebagian
kecil lainnya menganut agama Kristen dan Katolik, dan ada pula yang menganut
Hindu dan Buddha. Sebagian orang Jawa juga masih memegang teguh kepercayaan
Kejawen. Agama Islam sangatlah kuat dalam memberi pengaruh pada Suku Madura.
Suku Osing umumnya beragama Islam dan Hindu. Sedangkan mayoritas Suku Tengger
menganut agama Hindu.
Pada Pakaian adat Jawa Timur mencerminkan ketegasan dan
kesederhanaan kebudayaan Jawa Timur.
Selain itu yang membedakan pakain adat Jawa Timur dengan
Jawa Tengah adalah penutup kepala yang dipakai atau Odheng. Arloji rantai danf
sebum dhungket atau tongkat.
Pakaian adat Jawa Timur biasa disebut dengan Mantenan. Karena biasanya
dipakai pada saat acara perkawinan oleh masyarakat jawa Timur.
Selain busana Mantenan, pakaian khas Madura juga termasuk
pakain adat Jawa Timur.
Pakaian khas Madura biasa disebut pesa’an. Pakaian ini
terkesan sederhana karena hanya berupa kaos bergaris merah putih dan celana
longgar. Untuk wanita biasa menggunakan kebaya.
Ciri khas dari kebaya adalah penggunaan kutang polos dengan
warna cerah yang mencolok. Sehingga keindahan tubuh si pemakai akan terlihat
jelas.
Hal ini merupakan nilai budaya Madura yang sangat menghargai
keindahan tubuh. Bukan sebagai sarana pornografi.
Warna – warna yang mencolok dan kuat yang dipakai dalam
busana Madura mennjukan karakter orang Madura yang tidak pernah ragu – ragu,
berani, terbuka dan terus terang.
Sedangkan untuk para bangsawan menggunakan jas tutup polos
dengan kain panjang. Lengkap dengan odeng yang menunjukan derajat kebangsawanan
seseorang. (nn)
DAFTAR PUSTAKA
ref
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
2006.
Jawa Timur Dalam Angka 2006. Badan Perencana Provinsi Jawa Timur dan Badan
Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur. 2006.
Ensiklopedia Nasional Indonesia
http://letter03.blogspot.com/2010/04/kebudayaan-dan-kesenian-jawa-timur.html
http://indonesia-liek.blogspot.com/2010/12/budaya-jawa-timur-kebudayaan-daerah.html
www.google.budayajawatimur.co.id
www.wikipedia.com